Laman

Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

HALALKU UNTUKMU KUPU-KUPU - Radar Madura (Jawa Pos), edisi: 3 November 2013



HALALKU UNTUKMU KUPU-KUPU
(Benny Can)

Bunga mekar dengan mahkota indah memanjakan penikmatnya, menabarkan wewangian dan membuat betah kupu-kupu. Begitulah kiranya cinta dengan segalah kindahan, menebarkan butiran-butiran kabahagian bagi setiap pecinta yang menyanjung cinta setulus hati.
Aku yang merasakan kebahagian dari cerita cinta yang berbunga-bunga bila bersamanya. Di setiap embusan nafas adalah harum raganya yang menghukumku dalam satu permintaan, bersamanya selamanya. Aku sadar bahwasanya cinta ini harus dihalalkan dengan restu dan petuah untuk merestui kebersamaan, siang ini memberanikan memabawa Ranum menemui bapak demi mendapat restu.
 “Ranum, tunggu sebentar,” kataku sambil mempersilahkan duduk di ruang tamu, akupun masuk kekamar bapak dan mengajaknya keluar.“Pak, kenalkan ini Ranum.”
“Aku Ranum Pak,” ucap Ranum sambil bersalaman lalu duduk kembali.
Bapak yang enggan duduk menatap Ranum seolah ada sesuatu yang diketahui. “Dika, sekarang juga kamu putuskan dia karena aku tak sudi punya pacar seperti dia,” pintanya.
Aku merasa heran dan menatap keduanya. Bapak yang menunjukkan raut muka marah dan Ranum yang semulah mengumbar senyum, hanya bisa menundukkan kepala. “Ada apa, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada mereka dan Ranum hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dika, apa kamu tak menyadari siapa dia yang sebanrnya? Aku tahu siapa dia, pokoknya aku tak setuju.” tandasnya.
 “Bapak perna bilang, sekarang bukan lagi zamannya Siti Nurbaya dan memebrikan kebebasan untukku menentukan dan memilih sendiri calon istri. Tapi, sekarang malah sebaliknya, bapak mau merampas kebebasan yang bapak berikan.”
 “Seharusnya kamu mengerti, kebebasan yang bapak berikan tidak untuk seperti ini. Kamu seharusnya meyadari betapa pentingnya nama baik keluarga di mata  masyarakat. Jika kamu jadi menikah dengan dia, maka orang-orang akan memandang rendah martabat keluarga kita. Dia bukan cewek yang baik.”
“Pak, dia itu cewek baik-baik,” bantahku.
 “Dia kupu-kupu malam, Dia pelacur,” tegasnya.
“Itu dulu,”  kataku.
 “Tidak, orang akan tetap melihat dia sebagai seorang pelacur” tegasnya, saat itu tangannya melayangkan pukulan kemukaku dan sesaat suasana menjadi hening.
“Maaf,” Ranum berdiri sambil mengusap air matanya. “Dika, benar apa yang dikatakan bapakmu, aku memang tak pantas untuk bersanding dengan keluarga yang terhormat ini. Oya Pak, Tuhan terlanjur menghukumku dalam kehinaan, tapi salahkah aku bilah menjadi orang baik seperti bapak?” ucap ranum sedih, setelah itu dia memilih untuk pergi.  “Assalamu’alaiku,” lirih terdengar di antara salam dan tangisnya.
“Ranum, jangan pergi,” diapun berhenti dan aku menghampiri membujuknya. Seolah tanpa hirau dan hanya air mata di selah tangisnya, dia memilih berlari meninggalkanku.
“Dika, sudahlah, untuk apa kamu mengharap cinta dari orang seperti dia,” teriak bapak.
“Pak, kalau Bapak berada di posisiku, apa yang akan Bapak lakukan? Seorang cowok takkan rela ceweknya dihina seperti ini,” kataku.
“Lupakanlah dia, aku yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dan kamu akan menadapatkan kesenangan yang lebih,” katanya.
“Pak, senang bukan berarti bahagia. Kesenangan dapat dibelih dengan uang dan bapak berbicara seperti itu karena bapak punya banyak uang, tapi kebahagian tak dapat dibeli kerana kebahagian adalah sesuatu yang terasakan bila ada cinta setulus hati. Jadi, jangan paksa aku untuk melupakanya.”
 “Tapi, dia,” kata bapak, dan aku langsung memotong pembicaraanya. “Bukannya kita dan semua orang itu sama di mata Tuhan, dan yang membedakannya hayalah keimanan dan ketakwaannya. Bapak selalu bilang untuk bisa menghormati dan membina hubungan baik kepada setiap orang. Tapi, malah bapak memberikan contoh yang tidak baik, bapak menghina gadis yang belum tentu di mata Tuhan dia terhina. Aku kecewa.”
“Dika, cinta telah membuatmu buta hingga kamu lupa aka pentinya arti martabat keluarga di mata masyarakat. Apa kamu rela kelurga kita menjadi pembicaraan orang?”
“Sudah, sudahlah Pak. Ranum tidak sejelek seperti apa yang bapak bayangkan” kataku dengan emosi. Aku pun menendang kursi dan memilih untuk pergi dan tak perdulikan panggilan Bapak karena yang terfikirkan adalah keadaan Ranum. Aku pun ambil motor dan memacunya untuk segera sampai di rumah Ranum.
“Assalamu’alaikum. Ranum, Ranum …,” aku memanggil sambil berdiri di depan pintunya, namu tak ada jawab, lalu aku ulangi lagi, pintupun terbuka dan yang keluar adiknya. “Rian, kakakmu ada?”
“Kakakku tidak ada di rumah, waktu pulang sekolah dianya sudah tidak ada. Abang tunggu saja di sini dan sambil menunggu temanin Rian mengerjakan tugas sekolah.” Dengan perasaan khawatir akan keadaan Ranum aku pun menemani Rian sambil menunggu Ranum pulang. Setelah lama menunggu, ranum datang dan langsung masuk ke kamarnya seolah tak menghiraukanku dan hanya tangisnya yang terdengar.
“Ranum, Ranum,” aku memanggilnya dan berusaha membuka pintu, tapi pintunya terkunci. “Dika, lebih baik kamu pulang, aku sadar siapa aku ini dan benar kata bapakmu, aku hanya kupu-kupu malam.”
“Aku sekarang di sini untukmu, kamu jangan hiraukan kata-kata bapak dan maafkan dia,” rayuku agar dia membuka pintu. “Sudahlah, lupakan aku” sahutnya.
“Abang, biar aku yang buka pintunya. Aku punya kunci cadangan,” kata Rian.
“Rian, kok bisa kamu buka pintunya,” tanya Ranum, dan Rian hanya menunjukkan kunci dan setelah itu dia memilih pergi dan aku mendekati Ranum.
“Ranum, mintahlah sumpah demi apapun karena jiwa dan raga ini berani bersumpah demi apapun asalkan halalku bersamamu,” rayuku menyakinkan dengan memegang tangannya. “Tapi, Bapakmu” sahutnya. “Cinta itu harus diperjuangkan, bahagia itu harus digapai. Aku ingin bersamamu melawan semua rintangan demi satu tujuan, halalku untukmu kupu-kupuku dan halalmu untukku dengan ikatan suci pernikahan,” rayuku sambil mengusap air matanya dan Ranumpun mulai tersenyum, setelah itu memelukku. “Aku halalkan diriku untukmu bila itu maumu,”
“Kak,” kata Rian yang sudah berdiri di pintu yang terbuka . “Kamu lagi, ada apa?” kata Ranum. “Pelukannya diteruskan nanti. Sekarang keluar dulu ada tamu, katanya penting” jawab Rian sambil tersenyum melihat kita berpelukan.
Kita pun keluar. Betapa terkejut aku dan Ranum, karena yang datang adalah Bapak. “Pak, ada apa? Belum puas Bapak menghina Ranum hingga sampai ke sini,” sapa dan tanyaku.
“Dika, selamat untukmu,” katanya, aku hanya diam tak mengerti dan bapak lalu pergi ke mobil mengambil sesuatu dan memberikannya kepadaku. “Apa maksud dari semua ini, kenapa diary ini ada di bapak?” tanyaku. “Dika, kamu satu-satunya yang bapak miliki dan tak ingin kehilanganmu. Aku tahu semua tentang cintamu dari diary-mu, dan bapak lakukan hanya ingin tahu seberapa besar cinta kalian. Dika, aku yakin ibumu di surga juga merasa senang melihat anaknya tumbuh menjadi lelaksi sejati yang mampu mempertahankan cintanya. Ranum, maafkan bapak. Bapak halalkan anaku untukmu bila kamu bersedia menikah dengannya.”
“Pak, aku berjanji akan menjaga Dika dengan sekuat dan semampuku bila itu menjadi halalku,” kata Ranum sambil tersenyum dan kitapun berpelukan mencurahkan kebahagian. “Hem… Bapak jadi iri kalau begini. Ya sudah bapak dengan Rian saja, Rian ayo kita jalan-jalan.”
“Kupu-kupuku jangan perna tinggalkan aku. Kupu-kupumu ingin selalu bernafas bersama harum nafasmu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar