HALALKU UNTUKMU KUPU-KUPU
(Benny Can)
Bunga
mekar dengan mahkota indah memanjakan penikmatnya, menabarkan wewangian dan
membuat betah kupu-kupu. Begitulah kiranya cinta dengan segalah kindahan, menebarkan
butiran-butiran kabahagian bagi setiap pecinta yang menyanjung cinta setulus
hati.
Aku
yang merasakan kebahagian dari cerita cinta yang berbunga-bunga bila
bersamanya. Di setiap embusan nafas adalah harum raganya yang menghukumku dalam
satu permintaan, bersamanya selamanya. Aku sadar bahwasanya cinta ini harus
dihalalkan dengan restu dan petuah untuk merestui kebersamaan, siang ini
memberanikan memabawa Ranum menemui bapak demi mendapat restu.
“Ranum, tunggu sebentar,” kataku sambil
mempersilahkan duduk di ruang tamu, akupun masuk kekamar bapak dan mengajaknya
keluar.“Pak, kenalkan ini Ranum.”
“Aku
Ranum Pak,” ucap Ranum sambil bersalaman lalu duduk kembali.
Bapak
yang enggan duduk menatap Ranum seolah ada sesuatu yang diketahui. “Dika, sekarang
juga kamu putuskan dia karena aku tak sudi punya pacar seperti dia,” pintanya.
Aku
merasa heran dan menatap keduanya. Bapak yang menunjukkan raut muka marah dan
Ranum yang semulah mengumbar senyum, hanya bisa menundukkan kepala. “Ada apa,
apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada mereka dan Ranum hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dika,
apa kamu tak menyadari siapa dia yang sebanrnya? Aku tahu siapa dia, pokoknya
aku tak setuju.” tandasnya.
“Bapak perna bilang, sekarang bukan lagi
zamannya Siti Nurbaya dan memebrikan kebebasan untukku menentukan dan memilih
sendiri calon istri. Tapi, sekarang malah sebaliknya, bapak mau merampas
kebebasan yang bapak berikan.”
“Seharusnya kamu mengerti, kebebasan yang
bapak berikan tidak untuk seperti ini. Kamu seharusnya meyadari betapa
pentingnya nama baik keluarga di mata
masyarakat. Jika kamu jadi menikah dengan dia, maka orang-orang akan
memandang rendah martabat keluarga kita. Dia bukan cewek yang baik.”
“Pak,
dia itu cewek baik-baik,” bantahku.
“Dia kupu-kupu malam, Dia pelacur,” tegasnya.
“Itu
dulu,” kataku.
“Tidak, orang akan tetap melihat dia sebagai
seorang pelacur” tegasnya, saat itu tangannya melayangkan pukulan kemukaku dan
sesaat suasana menjadi hening.
“Maaf,”
Ranum berdiri sambil mengusap air matanya. “Dika, benar apa yang dikatakan
bapakmu, aku memang tak pantas untuk bersanding dengan keluarga yang terhormat
ini. Oya Pak, Tuhan terlanjur menghukumku dalam kehinaan, tapi salahkah aku
bilah menjadi orang baik seperti bapak?” ucap ranum sedih, setelah itu dia
memilih untuk pergi. “Assalamu’alaiku,”
lirih terdengar di antara salam dan tangisnya.
“Ranum,
jangan pergi,” diapun berhenti dan aku menghampiri membujuknya. Seolah tanpa
hirau dan hanya air mata di selah tangisnya, dia memilih berlari meninggalkanku.
“Dika,
sudahlah, untuk apa kamu mengharap cinta dari orang seperti dia,” teriak bapak.
“Pak,
kalau Bapak berada di posisiku, apa yang akan Bapak lakukan? Seorang cowok
takkan rela ceweknya dihina seperti ini,” kataku.
“Lupakanlah
dia, aku yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dan kamu akan
menadapatkan kesenangan yang lebih,” katanya.
“Pak,
senang bukan berarti bahagia. Kesenangan dapat dibelih dengan uang dan bapak
berbicara seperti itu karena bapak punya banyak uang, tapi kebahagian tak dapat
dibeli kerana kebahagian adalah sesuatu yang terasakan bila ada cinta setulus
hati. Jadi, jangan paksa aku untuk melupakanya.”
“Tapi, dia,” kata bapak, dan aku langsung memotong pembicaraanya.
“Bukannya kita dan semua orang itu sama di mata Tuhan, dan yang membedakannya
hayalah keimanan dan ketakwaannya. Bapak selalu bilang untuk bisa menghormati
dan membina hubungan baik kepada setiap orang. Tapi, malah bapak memberikan
contoh yang tidak baik, bapak menghina gadis yang belum tentu di mata Tuhan dia
terhina. Aku kecewa.”
“Dika,
cinta telah membuatmu buta hingga kamu lupa aka pentinya arti martabat keluarga
di mata masyarakat. Apa kamu rela kelurga kita menjadi pembicaraan orang?”
“Sudah,
sudahlah Pak. Ranum tidak sejelek seperti apa yang bapak bayangkan” kataku
dengan emosi. Aku pun menendang kursi dan memilih untuk pergi dan tak
perdulikan panggilan Bapak karena yang terfikirkan adalah keadaan Ranum. Aku
pun ambil motor dan memacunya untuk segera sampai di rumah Ranum.
“Assalamu’alaikum.
Ranum, Ranum …,” aku memanggil sambil berdiri di depan pintunya, namu tak ada
jawab, lalu aku ulangi lagi, pintupun terbuka dan yang keluar adiknya. “Rian,
kakakmu ada?”
“Kakakku
tidak ada di rumah, waktu pulang sekolah dianya sudah tidak ada. Abang tunggu saja di sini dan sambil menunggu
temanin Rian mengerjakan tugas sekolah.” Dengan perasaan khawatir akan keadaan
Ranum aku pun menemani Rian sambil menunggu Ranum pulang. Setelah lama
menunggu, ranum datang dan langsung masuk ke kamarnya seolah tak menghiraukanku
dan hanya tangisnya yang terdengar.
“Ranum,
Ranum,” aku memanggilnya dan berusaha membuka pintu, tapi pintunya terkunci. “Dika,
lebih baik kamu pulang, aku sadar siapa aku ini dan benar kata bapakmu, aku
hanya kupu-kupu malam.”
“Aku
sekarang di sini untukmu, kamu jangan hiraukan kata-kata bapak dan maafkan
dia,” rayuku agar dia membuka pintu. “Sudahlah, lupakan aku” sahutnya.
“Abang,
biar aku yang buka pintunya. Aku punya kunci cadangan,” kata Rian.
“Rian,
kok bisa kamu buka pintunya,” tanya Ranum, dan Rian hanya menunjukkan kunci dan
setelah itu dia memilih pergi dan aku mendekati Ranum.
“Ranum,
mintahlah sumpah demi apapun karena jiwa dan raga ini berani bersumpah demi
apapun asalkan halalku bersamamu,” rayuku menyakinkan dengan memegang
tangannya. “Tapi, Bapakmu” sahutnya. “Cinta itu harus diperjuangkan, bahagia
itu harus digapai. Aku ingin bersamamu melawan semua rintangan demi satu tujuan,
halalku untukmu kupu-kupuku dan halalmu untukku dengan ikatan suci pernikahan,”
rayuku sambil mengusap air matanya dan Ranumpun mulai tersenyum, setelah itu
memelukku. “Aku halalkan diriku untukmu bila itu maumu,”
“Kak,”
kata Rian yang sudah berdiri di pintu yang terbuka . “Kamu lagi, ada apa?” kata
Ranum. “Pelukannya diteruskan nanti. Sekarang keluar dulu ada tamu, katanya
penting” jawab Rian sambil tersenyum melihat kita berpelukan.
Kita
pun keluar. Betapa terkejut aku dan Ranum, karena yang datang adalah Bapak.
“Pak, ada apa? Belum puas Bapak menghina Ranum hingga sampai ke sini,” sapa dan
tanyaku.
“Dika,
selamat untukmu,” katanya, aku hanya diam tak mengerti dan bapak lalu pergi ke
mobil mengambil sesuatu dan memberikannya kepadaku. “Apa maksud dari semua ini, kenapa diary
ini ada di bapak?” tanyaku. “Dika, kamu satu-satunya yang bapak miliki dan tak
ingin kehilanganmu. Aku tahu semua tentang cintamu dari diary-mu, dan
bapak lakukan hanya ingin tahu seberapa besar cinta kalian. Dika, aku
yakin ibumu di surga juga merasa senang melihat anaknya tumbuh menjadi lelaksi
sejati yang mampu mempertahankan cintanya. Ranum, maafkan bapak. Bapak halalkan
anaku untukmu bila kamu bersedia menikah dengannya.”
“Pak,
aku berjanji akan menjaga Dika dengan sekuat dan semampuku bila itu menjadi
halalku,” kata Ranum sambil tersenyum dan kitapun berpelukan mencurahkan
kebahagian. “Hem… Bapak jadi iri kalau begini. Ya sudah bapak dengan Rian saja,
Rian ayo kita jalan-jalan.”
“Kupu-kupuku
jangan perna tinggalkan aku. Kupu-kupumu ingin selalu bernafas bersama harum
nafasmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar